pengertian seni

PENGERTIAN SENI
ROBBY HIDAJAT
Secara etimologi, istilah seni menurut I.G. Bg. Sugriwa. Seni berasal dari kata bahasa Sansekerta yang kurang lebih berarti; penyembahan, pelayanan, pemberian. Menurut Padmapuspitha seni dimungkinkan dari bahasa Belanda yaitu Genie diadopsi dari bahasa Latin yang artinya genius. Menurut Ensiklopedia Britanica, seni dalam bahasa Inggris disebut Art, yaitu kata yang diadopsi dari bahasa Yunani (Sudarmadji. 1979:5).
Dalam bahasa Latin pada abad pertengahan ada istilah “ars”, “artes’, dan “artista" Ars adalah teknik atau crattsmanship, yaitu ketangkasan dan kemahiran dalam mengerjakan sesuatu; adapun artes berarti societates mesteriorum atau kelompok orang yang memiliki ketangkasan tersebut (craft guilds); dan artista
Art inilah yang kemudian berkembang menjadi I’arte dari bahasa Itali, I’art dari bahasa Perancis, el arte dari bahasa Spanyol, dan art dari bahasa Inggris, dan bersama dengan itu isinyapun berkembang sedikit demi sedikit ke arah pengertiannya yang sekarang. Akan tetapi di Eropa ada juga istilah-istilah yang lain. Orang Jerman menyebut seni dengan die Kunst dan orang Belanda menyebutnya dengan istilah kunst, yang berasal dari akar kata yang lain walupun dengan pengertian yang sama (bahasa Jerman juga mengenal istilah die art yang berarti cara, jalan, atau modus, yang juga dapat dikembangkan kepada asal mula pengertian dan kegiatan seni, tetapi kemudian die kunst-lah yang diangkat untuk menamai kegiatan itu) (Soedarso Sp. 17-18)
Karya seni yang diciptakan manusia kaitannya dengan aspek keindahan memiliki tiga ranah, yaitu sebagai berikut.
a) Daya Cipta Manusia atau Hasil Kegiatan Manusia
Seni sebagai kegiatan manusia paling banyak dinyatakan oleh filsuf-filsuf seni seperti Leo Tolsty, Eric Kaher, Raymond Piper dan Hospers. Pendapat Leo Tolsty lebih ditekankan pada kegiatan manusia yang sadar melalui tanda-tanda tertentu.
Pemikiran Kahler lebih terperinci yaitu bahwa kegiatan manusia menciptakan ralitas baru dengan perasaannya melalui perlambangan kiasan mikrokosmos sebagai manifestasi makrokosmos. Hal ini juga sejalan dengan pemahaman Soedarso Sp. Pengertian seni yang paling bersahaja dan sering terdengar menyebutkan bahwa “seni adalah segala macam keindahan yang diciptakan oleh manusia”. Maka, menurut jalan fikiran ini seni adalah suatu produk keindahan, suatu usaha manusia untuk menciptakan yang indah-indah yang dapat mendatangkan kenikmatan (Soedarso Sp. 1987:1).
Pandangan Thomas Munro, seorang filsuf dan ahli teori seni berkebangsaan Amerika, seni adalah alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya. Efek tersebut mencakup tanggapan-tanggapan yang berwujud pengamatan, pengenalan, dan imajinasi baik yang rasional maupun emosional (Thomas Munro 1963: 419).
b) Karya Seni atau Wujud Benda Seni (produk)
Karya seni adalah produk proses kegiatan manusia atas dasar kemampuan kreatif. Peper dan Hopers mempertentangkan antara karya seni dan benda-benda alam work of art. Peper berpendapat karya seni adalah sesuatu kegiatan yang dirancang untuk mengubah bahan alamiah menjadi benda-benda yang fungsional yang memiliki keindahan ataupun kedua-duannya. Sementara itu, Hospers berpendapat bahwa karya seni memiliki pengertian yang sangat luas, artinya karya seni meliputi setiap benda yang dibuat oleh manusia yang memiliki perbedaan dengan benda-benda dari alam (The Liang Gie, 1976: 62-63). Perbedaan yang sangat mendaasar adalah adanya unsur kreativitas. Maka, kehadiran karya seni mencakup aspek perbuatan atau keterampilan. The Liang Gie menjelaskan keterkaitan karya seni dengan aspek perbuatan manusia sebagai
(1) Seni sebagai kemahiran (skill),
(2) Seni sebagai kegiatan manusia (human activity),
(3) seni sebagai karya seni (work of art),
(4) seni sebagai keindahan (fine art), dan
(5) seni sebagai penglihatan (visual art).
Keterkaitan seni dan keterampilan dapat diperhatikan lebih lanjut. Pada masa lampau di mana-mana tidak ada yang dapat membedakan secara tegas antara seniman dan kriyawan, antara artistes dan craftsmen, yang berarti tidak ada pembedaan antara “membuat” lukisan dan membuat meja. Bahkan Plato pernah sedikit merendahkan si pembuat lukisan karena apabila tukang sepatu adalah ahli dalam membuat sepatu (yang benar-benar), tukang mebel adalah ahli dalam membuat meja dan kursi sungguhan, maka sang pelukis hanyalah menghasilakan tiruan sepatu, meja-kursi, dan semua benda yang kasat mata ini, dan dirinya sendiri sama sekali bukan ahli sebagaimana para tukang tadi. Padahal, kenyataannya yang sekarang banyak yang justru ingin mengatakan bahwa pelukis lebih tinggi derajatnya daripada para kriyawan. Dengan timbulnya istilah “fine art” (seni murni) dalam abad XVII, mulai jatuhlah talak satu antara seniman dan kriyawan. Seniman adalah orang yang bekerja di bidang seni murni dan kriyawan ialah mereka yang bergumul dengan seni pakai.
Akan tetapi pada akhir abad ke sembilan belas di Inggris terdapat suatu usaha untuk mempersatukan mereka itu kembali yang dipelopori oleh John Ruskin dan William Morris. Mereka itu menyadari bahwa akar dari kepincangan yang ada dalam masyarakat adalah pemisahan kerja dari kenikmatan dan pemisahan seni dari kekriyaan. Usaha ini kurang begitu berhasil, tetapi kumandangnya cukup jauh di luar negeri. Lahirlah di Austria “werkstatte” dan di Jerman “Bauhaus” yang berusaha untuk mempersatukan kembali seni murni dan seni pakai. Maka lahirlah apa yang sekarang ini terkenal sekali, ialah industrial design, suatu usaha untuk menjernihkan produk-produk industri yang merupakan puncak dari teknologi kekriyaan. Hasilnya merupakan suatu benda yang susah dipisahkan mana unsur kekriyaan dan mana unsur ekspresi keindahan (Soedarso Sp. 18-19).
Plato memulai kejiannya tentang seni dengan definisi “techne” yang sring diterjemahkan sebagai ‘seni’ tetapi sebenarnya lebih dekat artinya dengan kriya ‘kerajian’. Pengertiannya adalah “keterampilan dalam melakukan (membuat) sesuatu yang membutuhkan kemampuan yang luar biasa dan sangat spesial”.
Keterampilan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu keterampilan yang memperolehkan (acquisitive crafts) seperti kegiatan yang berkaitan dengan perniagaan dan mencari uang, dan keterampilan yang produktif, yaitu keterampilan dalam mengadakan atau menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Untuk menciptakannya harus ada medium yang dikerjakan dengan cara tertentu, harus ada keterampilan, dan harus ada pengetahuan tertentu. Akan tetapi ketrrampilan yang produktif juga mempunyai tujuan akhir, dan mengikuti suatu rancangan (plan), yang diikuti perupa. Karenanya, semua produksi adalah tiruan (imitasi). Hal ini tentu mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang ditiru. Bagi Plato, yang ditiru adalah (bagi seni rupa) idola atau refleksi para dewa. Dengan kata lain, bentuk yang paling ideal. Hal ini kemudian akan memunculkan pertanyaan mengenai apa yang dimaksud dengan keindahan. Menurut Plato, ada keindahan yang absolut atau tertinggi, yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi dapat ditangkap oleh jiwa kita (mind). Sebenarnya kita sudah memiliki gambaran tentang keindahan itu, tetepi dalam kekagetan proses lahir di dunia, bayangan ini tertekan. Senimanlah yang mengakat kemali keindahan ini agar bisa dilihat. Plato tidak pernah sampai pada definisi keindahan, namaun ia memberikan gambaran mengenai aspek apa saja yang selalu dimiliki oleh benda yang indah. Walaupun demikian, ia menolak mengatakan bahwa aspek-aspek ini mendefinisikan keindahan. Properti ini pada akhirnya jatuh pada adanya proporsi yang enak antara satu bagian dan bagian lain dari benda, sehingga akhirnya muncul keindahan Yunani mengatakan bahwa kualitas ukuran dan proporsi pada akhirnya menjadi keindahan (Soemantri, 1999: 3).
ROBBY HIDAJAT
Staf Pengajar Program Pendidikan Seni Tari
Jurusan Seni dan Desain
Fakultas Sastra UM
Share on :
pengertian seni
pengertian seni
Reviewed by Robby Hidajat
Published :
Rating : 4.5

No comments:

Post a Comment