Pendidikan Kesenian Indonesia

Tari Anak

Tari Anak

TARI DAN KREATIVITAS ANAK

BERMAIN SEBAGAI PENDEKATAN KREATIF DALAM PROSES PEMBELAJARAN SENI TARI UNTUK ANAK-ANAK

Robby Hidajat


PENGERTIAN TARI ANAK

Pengertian tari anak-anak dapat dipahami dari aspek peragawi (penari), yaitu sangat jelas menunjuk pada usia “anak-anak”, artinya bukan penari “dewasa”. Dengan demikian perlakukan dan materi bahan ajar harus menyesuaikan dengan kondisi, antara lain, yaitu mempertimbangkan tingkat daya tangkap, kemampuan sistem mekanisasi tubuh, kemampuan intelektual, serta jangkauan imajinasi. Hal tersebut juga dipertimbangkan berdasarkan kesan atau image penonton terhadap efek sesaat anak-anak di atas panggung.
Selama ini tari anak-anak hanya difokuskan pada tingkat kemampuan anak-anak dalam memperagakan, bahkan tujuan pencapaian kualitas teknik gerak menjadi prioritas utama. Karena banyak para pelatih tari yang menekankan aspek teknik untuk mencapai kualitas keunggulan dan kesan atraktif. Hal tersebut tidak menjadi masalah yang besar, hanya saja para pelatih harus yakin bahwa anak-anak tidak kehilangan aspek kesan ke-kanak-kanakkannya.
Keterkaitan dengan hal tersebut, pertimbangan tari anak-anak dapat dijelaskan dengan rentang pemahaman sebagai berikut: Tari anak-anak adalah tari yang diperagakan oleh anak-anak pada rentang usia sekolah TK & SD. Pada aspek penyajianya membawakan berbagai aspek tematik yang berkisar pada kemampuan teknik dan daya jangkau penghayatan anak-anak.
Pengertian tersebut di atas bukan semata-mata untuk membatasi ruang lingkup tari anak-anak, tetapi diharapkan sebagai pertimbangan para pelatih (guru tari), dan atau para pemikir eksistensi tari anak-anak. Maka dimungkinkan akan terbuka berbagai pemikiran yang lebih sistematis, tepat sasaran, dan mempunyai daya jangkau pada rentang masa ke depan tari anak-anak yang lebih konstruktif.

FUNGSI TARI ANAK-ANAK

Setelah menyimak beberapa uarian di atas perlu kiranya menyimak fungsi tari anak-anak dalam kerangka pendidikan, dan aplikasinya dalam proses pembelajarannya. Guru dapat memahami secara lebih mendasar tentang materi pembelajarannya dan hasil yang mampu dijangkau. Berikut ini akan dikemukakan beberapa fungsi tari bagi anak-anak

1. Fungsi Pembiasaan Mekanisasi Tubuh
Perekembangan anak-anak diperlukan pengenalan tentang pembiasaan mekanisasi tubuh (sadar akan ruang diri). Pada umumnya melalui olah raga, tetapi seni tari dimungkinkan dapat mebiasakan anak mengenali anggota tubuhnya, seperti kaki, tangan, kepala, dan persendiannya. Dalam perkembangan aspek biologis anak-anak diperlukan cara-cara yang secara sadar dapat mengenali perubahan-perubahan organ tubuh anak-anak, bahkan hingga pada bagian yang sensitif sekalipun.

2. Fungsi Pembentukan Tubuh (forming body)
Anak-anak memungkinkan tumbuh dan berkembang secara wajar melalui kegiatan menari. Pengaktifan tubuh berpengaruh terhadap sistem mekanisme ragawi dan juga ritmikalitas. Hal ini dimungkinkan agar anak-anak mengalami pertumbuhan secara wajar. Anak-anak yang mempunyai kebiasaan buruk, seperti jalan pengkang, jalan bengkok, jalan dengan perut didorong ke depan, menunjuk atau menengadah serta beberapa cara berdiri tertentu. Kondisi tersebut dapat dikontrol dengan cara dilatih, bahkan secara simultan dengan pengetrapan teknik tari, sehingga anak-anak dapat mengalami pertumbuhan badan (fisik) yang wajar, bahkan sempurna.

3. Fungsi Sosialisasi Diri
Pembelajaran tari pada anak-anak secara individual (privat) tidak dianjurkan, karena tidak akan mencapai hasil yang bermanfaat bagi pertumbuhan sosial anak-anak. Sifat seni tari adalah sosial; anak-anak sejak dini membutuhkan proses sosialisasi diri dengan orang lain dan lingkungannya. Maka yang paling baik adalah mengajarkan seni tari secara klasikal (kelompok), artinya dalam proses pembelajaran akan terjadi proses sosial; kebersamaan, sikap tenggang rasa, memahami peran, dan tanggung jawab, sehingga anak dapat membawa diri dalam pergaulan (empan papan), misalnya anak tidak merasa mindir (rendah diri) atau tinggi hati (sombong). Mereka dapat menyadari benar tentang peranannya, bahkan dapat juga menjadi sangat sadar tentang keterlibatan mereka dalam kelompok. Dengan demikian, maka pengertian tari dalam kerangka pendidikan bukan dititikberatkan pada “seni”, tetapi lebih dititikberatkan pada nilai-nilai sosial dengan aplikasi pemaknaan pada proses bermain.
Pengajaran seni tari bukan semata-mata pada kegiatan proses trampil, akan tetapi tari anak-anak lebih menekankan pada proses “bermain” Karena bermain dapat menumbuhkan berbagai potensi yang dimiliki oleh anak-anak. Sehingga anak tidak hanya memiliki kecerdasan dalam pengertian intelektualitasnya saja, akan tetapi juga memiliki sejumlah kecerdasan lain yang dapat dikembangkan, misalnya kecerdasan emosional, dan kecerdasan kinetik. Tubuh yang terlatih pada tataran tertentu memiliki kepekaan ruang dan juga waktu, sehingga sensitifitas ruang dan waktu dapat mengendalikan tenaga. Dalam hal ini dapat diartikan juga bahwa kontrol emosioan dalam diri anak-anak secara berangsur-angsur mendapat pembinaan.

4. Fungsi Pembentukan Kepribadian
Banyak orang yang dianugrahi kecantikan atau ketampanan, kekayaaan atau kepandaian, tetapi seringkali terhambat oleh perasaan rendah diri (minder) atau tidak yakin akan apa yang dimilikinya sehingga tidak mampu untuk mengembangkan potensi pribadinya. Hal ini banyak terjadi pada anak-anak yang mengalami beban psikis akibat adanya tuntutan dari orang tua, guru, dan lingkungan yang menyebabkan pertumbuhan psikologis anak-anak menjadi terganggu. Seni tari sebagai kegiatan sosial menempatkan individu dalam kerangka kebersamaan, atau dalam kerangka pribadi yang mandiri. Anak-anak selalu ditunut mampu mengontrol dirinya, tetapi juga mampu bekerja sama sengan orang lain. Maka keyakinan akan kemampuan pribadi, dan ketergantungan pada orang lain dapat dibina secara simultan.


5. Fungsi Pembentukan Karakteristik diri (perawatakan)
Sebenarnya manusia memiliki bakat imitasi, yaitu menirukan sejumlah perwatakan, mulai dari perwatakan manusia, hewan, maupun sifat-sifat benda tertentu. Peniruan memiliki makna yang dalam dari sebuah pernyataan diri atau yang biasa disebut sebagai kualitas pemahaman karakteristik. Bayi tubuh menjadi besar adalah ditentukan oleh kemampuan meniru, maka tari yang didalamnya terkait dengan aspek imitasi menjadi sebuah media yang memberikan kesadaran berkelanjutan pada anak-anak, bahwa meniru adalah sebuah cara belajar, cara memahami sesuatu di luar dirinya.

6. Fungsi Komunikasi
Anak-anak seringkali sulit untuk menyatakan sesuatu yang ada dalam hatinya. Kadang mereka ingin membagi sesuatu yang dialami kepada orang lain; seperti rasakan sesuatu yang bergejolak dalam hati atau sebuah ilusi yang selalu berkecamuk dalam pikirannya. Sesuatu itu kadang menjadi terhambat, sebab anak-anak tidak cukup media untuk menyatakannya. Seni tari memberikan peluang kepada anak-anak untuk dapat menyatakan kegembiraan atau perasaan yang dialaminya melalui bahasa ragawi. Bahasa ragawi dapat mengomunikasikan gagasan-gagasan budaya, nilai-nilai dan tema-tema pada cerita-cerita yang bersifat naratif atau dramatik. Di samping itu, seni tari juga dapat mengomunikasikan segenap rasa (perasaan) dalam batin.
Seni tari sebagai media komunikasi dapat juga dibedakan menjadu dua jenis, yaitu sebagai media menyatakan gagasan non verbal dan menyatakan gagasan estetik.

a. Menyatakan Gagasan Non Verbal.
Banyak anak yang mengalami kesulitan untuk mengemukakan gagasan secara lisan, tulisan ataupun melalui pernyataan ragawi. Hal ini terjadi karena mereka tidak terbiasa untuk mengkomulasikan sejumlah unsur-unsur persepsinya menjadi sebuah ide. Seni tari kemungkinan dari tarap imajinasi mengembangkan imitasi dan kemampuan imitasi (menirukan), sehingga gagasan dari sebuah pengamatan dapat disampaikan kepada orang lain, terutama dengan kemampuan non verbalnya.
b. Menyatakan Gagasan Estetik.
Nilai-nilai keindahan dalam setiap seni mengomunikasikan rasa yang berbeda-beda. Saat kita bermaksud mengomunikasikan objek kuda, misalnya. Objek kuda yang tertuang dalam sebuah lukisan merupakan suatu bentuk komunikasi visual. Sementara itu, objek kuda yang dituangkan pada sebuah tairan merupakan suatu bentuk komunikasi kinestetik (rasa gerak). Artinya, setiap perubahan gerak akan memberikan sentuhan nilai-nilai yang tidak sekedar figuratif yang dapat ditangkap oleh mata, tetapi juga memberikan pengalaman rasa gerak bagi penari, dan pengalaman imajinatif bagi penontonnya.

7. Fungsi Penanaman Nilai Budaya.
Upaya agar siswa dapat mengenali nilai budaya tidak cukup hanya dengan membaca atau diberi penjelasan, saja tetapi mereka juga dimungkinkan untuk dapat berpartisipasi dengan cara berperan aktif untuk merasakan secara fisikal atau melalui empatinya. Dengan demikian, gerak sembah yang ada pada tari Jawa, dapat dirasakan atau dihayati maknanya, misalnya sebagai tradisi sungkeman atau ngebekten (menunjukan rasa hormat pada orang tua).
Sudah barang tentu penenalan nilai budaya dalam seni tari juga dimungkinkan dapat mengaplikasikan ke dalam etika yang berkembang dalam masyarakat, seperti cara duduk, cara berdiri, berjalan, menghormati orang lain dan lain sebagainnya.

Sejumlah fungsi tari tersebut di atas dapat dirangkum menjadi sebuah pernyataan yang lebih sederhana, yaitu seni tari berfungsi sebagai media yang dapat menyadarkan, membentuk, dan mengenalkan sejumlah realitas kehidupan pada anak-anak dalam rentang masa pertumbuhannya.
Pernyataan tersebut di atas tentu membutuhkan banyak sumbangan pemikiran, bahkan dimungkinkan dilakukan tinjauan kritis atau empiris. Meningat selama ini, tari pendidikan masih belum sangat jelas keberadaannya. Karena pemikiran selama ini, bahwa tari pendidikan adalah tari yang mengungkapkan hal ikwal tentang anak-anak. Sehingga perkembangan tari pendidikan di masa mendatang tidak dapat mengembangkan sayapnya, bahkan akan terkungkung pada ketidak mampuan para guru dan juga instruktur.
Anak-anak sebagai peraga (penari) adalah salah satu aspek dari sekian aspek yang lebih kompleks, maka orentasi pada peraga (penari) yang bersifat anak-anak menjadi pemikiran tidak memberikan keluasan dan kedalaman. Karena tari pendidikan adalah “media”, yaitu media bagi anak-anak agar mereka dapat mengenali lebih jauh, lebih mendalam tentang sejumlah realitas yang ada dalam dirinya atau di luar dirinya.

PENDEKATAN KREATIF

Menyimak fungsi tari anak dalam proses pembelajarannya, berbagai model pendekatan kreatif digagas oleh para pemikir dan pelatih; Kreatif diturunkan dari kata kata kreativitas, yaitu yang dipahami sebagai usaha mengatasi problematika (persoalan) diri (seseorang) dalam memahami sesuatu, dan sekaligus cara bertindak untuk mengatasi persoalan. Dengan demikian, pada tingkat praktis seseorang menggunakan cara-cara yang tidak sama. Hal ini tergantung dai pengalaman dan pengetahuan. Sudah barang tentu latar belakang tersebut memiliki kaitan yang erat dengan proses pertumbuhan intelektual dan mentalitas masing-masing.
Sebagai contoh kasus, koreografi tari anak-anak yang digagas oleh pemikir koreografi, salah satunya seperti yang digagas oleh Wahyudianto staf pengajar seni tari dari STKW Surabaya, gagasan yang ditulis berjudul Mencipta Tari Melalui Lagu: Cara efektif mencipta tari. Gagasan sejenis juga telah dirintis oleh staf pengajar di jurusan seni tari UPI Bandung dan UNJ sekitar tahun 2002.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyumbangkan gagasan untuk ikut serta melengkapi alternatif mengatasi persoalan proses pembelajaran seni tari, setidaknya memberikan alternatif guna menyiasati proses belajar seni tari. Gagasan yang diajukan adalah ”bermain”.
Pada umumnya, koreografi di ciptakan dengan pendekatan resfonsif seperti yang digagasa oleh Wahyudianto; gagasan tersebut menggunakan dasar rangsang musikal, karena hal tersebut dianggap sebagai sebuah realitas umum. Bahwa setiap orang, mempunyai kepekaan musikal. Respon yang ditumbulkan dapat berupa tanggapan yang bersifat ritmik, seperti menghentakan kaki, mengetuk-ngetukan jari tangan, menggelengkan atau mengangkukan kepala, hingga menanggapi dengan bahu serta torso. Pada pengetrapan sebagai motifasi ke arah koreografi dapat berupa tindakan konstruktif, yaitu menggunakan cara resfonsif spontan apriori yang dibarengi dengan kemampuan intelektual konstruktif. Hasilnya adalah koreografi konstruktif. Anak-anak dimungkinkan mampu mengingat pola ritmik, syair, atau bagian-bagian musik yang dapat ditanggapi secara konstrukif.
Pendekatan bermain adalah sebuah reaksi sosial, keakrapan dan mengkondisian rasa sepermainan. Pendekatan bermain pada dasarnya adalah sebuah pendekatan yang sangat erat dengan seni pertunjukan (tari), Sal Murgiyanto menjelaskan: Pertunjukan adalah sebuah permaianan, sebuah laku ”berpura-pura”. Seorang aktor harus pandai berpura-pura (menjadi raja, pahlawan, perampok, putri yang bijak, cerewet, atau anggun) dan membuat penonton percaya (1996157). Pembelajaran yang menekanakan aspek tersebut bertujuan pembentukan kepribadian siswa, yaitu disebut pendekatan berlajar ”bermain peran”.
Pada pelajaran seni tari, pendekatan bermain atau bermain peran pada dasarnya dapat berupa susunan koreografi yang bersifat konstruktif, tetapi dapat jadi juga tidak menghasilakan koreogrfi yang konstuktif, tetapi hanya berupa interaksi yang bersifat responsif, artinya hasil kegiatan pembelajaran tari hanya tercapainnya sebuah fungsi sosial. Hal tersebut pada dasarnya telah mendasari berbagasi bentuk koreografi yang bersifat sosial yang bersifat konvensional, seperti bentuk tari Joged Bumbung dari Bali dan Lombok, Gandrung dari Banyuwangi, Tayub dari Jawa, dan Reonggeng yang tumbuh dalam masyarakat suku Melayu. Koreografi sosial tersebut memiliki perkembnagan yang lamban, sungguhpun jenis tari yang bersifat konvensional dari Timur atau dari Barat sangat digemari.
Anak-anak dalam masa pertumbuhannya di mungkinkan dapat mengkondisikan lingkungan sosialnya agar lebih memberikan dukungan untuk mengembangkan kepribadian, mereka dimungkinkan dapat menjalin berbagai sifat dan sikap yang dapat memberikan dukungan pada tujuan tertentu. Rasa setiakawan dapat dimulai dari kemungkinan yang dapat ditumbuhkan melalui kerjasama, kekompakan dapat dilatih melalui hubungan saling memberikan arti satu dengan yang lain. Rasa tanggung jawab dapat ditumbuhkan dari konsistensi dalam mengambil peran, sehingga orang dapat menentukan posisi dan ruang lingkup yang menjadi kewenangannya.
Pendekatan bermain dapat dibedakan menjadi dua cara yaitu: game yang lebih bersifat interaktif memecahkan sejumlah kode atau reaksi tertentu, ketika lawan mainnya maju, maka yang satu mundur, jika lawan mainnya bergerak ke kiri maka yang lain bergerak kekanan. Hal yang sederhana ini memungkinkan terjadi sebuah konstruksi koreografi yang bersifat reaktif. Sementara bentuk pendekatan bermain yang lain adalah Play, yaitu koreografi ini adalah relatif bersifat konstruktif; pada umumnya di Indonsia di terjemahkan sebagai tari dolanan. Artinya sebuah koreografi di konstruksi dalam penyuasanaan permainan.
Pada tingkat aplikasi memiliki varian yang cukup banyak, hal tersebut sangat tergantung pada kreativitas masing-masing guru. Oleh karena itu pendekatan bermain jika dikembangkan intensif mempunyai banyak kemungkinan manfaat yang diperoleh anak-anak. Karena bentuk yang satu akan memberikan wujud yang berbeda, bahkan akan mengakibatkan efek motorik dan psikologis yang berbeda pula.
Pendekatan bermain walaupun belum benar-benar memasyarakat, dan belum dirasakan sebagai pendekatan yang bersifat kreatif dalam pengajaran tari untuk anak. Tetapi secara konseptual pendekatan ini memberikan ranah yang menungkinkan anak-anak mampu mengembangkan kondisi sosialnya. Hal ini mengingat bahwa anak-anak adalah sebuah pase yang memungkinkan dapat memberikan kemungkinan untuk memumbuh kembangkan kepribadian sosial; seperti kedisiplinan, tanggung jawab, setiakawan, gotongroyong, atau sejumlah reaksi spontan yang mendudukan orang lain sebagai bagian integral dari keberadaan dirinya.




DAFTAR RUJUKAN

Condrohamijoyo, Sutopo. 1986. Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Masalah Tari. Jakarta: Departemen Kesenian proyek pengembangan Kesenian Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Hidajat,Robby. 1994. “Fenomena Koreografi Kontemporer Indonesia” Jornal Seni IV. 01- Januari 1994. Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta..
Hidajat,Robby. 2003. Koreografi Anak-Anak. Malang: Balai Kajian Seni dan Desain
Hidajat,Robby. 2003. Mozaik Koreografi. Malang; DKJT dan Banjar Seni Gantar Gumelar.
Murgiyanto, Sal. 1996. “Cakrawala Pertunjukan Budaya; Mengkaji Batas dan Arti Pertunjukan” Yogyakarta: Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan Th. VII 1996.
Smith, Jacoueline. 1985. Komposisi Tari. Diterj, Ben Soeharto. Jogyakata: IKALASTI.
Sorell, Walter. 1993. Tari Dari Berbagai Pandangan. Diterj. Agus Tasman. Surakarta [tanpa penerbit].
Sulistyo, Edy Tri. 2005. Kajian Dini Pendidikan Seni. Surakarta: UNS Press.
Wahyudinanto, 2009. ”Tari Melalui Lagu: Cara efektif mencipta tari” majalah Bende Mei 2009. Surabaya: UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa timur.
Posted by Robby Hidajat, Published at 3:22 PM

No comments:

Post a Comment

Copyright © 2014 Studiotari | Powered by Blogger.com | Partner Pathmo Media