WAYANG TOPENG DI MALANG (BAGIAN IX)

WAYANG TOPENG DI MALANG (BAGIAN IX)
Sejarah, nilai, dan kontribusinya terhadap kehidupan sosial masa kini


Materi Lengkap Dialog Seni Budaya untuk Siswa dan Mahasiswa Se-Jawa Timur di UPT Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur Surabaya


Oleh
Drs. Robby Hidajat, M.Sn.
Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Seni Tari
Jurusan Seni dan Desain
Fak. Sastra UM

Selingan



Gambar 8 Tari Bapang

Selingan adalah menyela adegan. Masyarakat penonton wayang topeng menyebut dengan istilah “ekstra” . Adegan ini merupakan bagian yang tidak memiliki kaitan konstruktif, tetapi menjadi bagian yang bersifat integral dengan keseluruhan sajian. Adegan selingan mirip dengan adegan Bambang – Cakil, yakni dalam wayang orang atau wayang kulit purwa. Isi adegan ini adalah munculnya tokoh Bapang yang membawakan tari Bapang, yaitu tokoh yang hadir dalam bentuk konstruktif tari tersendiri. Penampilannya selalu diiringi dengan Panakawan yang bernama Demang Mundu. Bapang tidak terkait dengan adegan jejer atau persoalan-persoalan yang dilakonkan. Pemunculan tokoh Bapang merupakan bentuk presentasi tarian, yaitu menggambarkan perjalanan Bapang menuju negara kakaknya, yaitu Klana Sewandana. Setelah munculnya tari Bapang, kemudian dilanjutkan dengan Permainan Gunungsari - Patrajaya. Adegan ini sangat menarik karena terdapat bentuk gerak tari yang disebut dengan “permainan”. Gunungsari dan Patrajaya bersama-sama memperagakan bentuk-bentuk yang khas, seperti: merak ngigel, merak ngombe, merak kesereten, wader pari nyungsung beji, merak kesimpir, biyodo mususi, wulanjar luru kemiri, satria jala, kemanten purek, tikus ngungak salang ngelur gadhung, dan lain sebagainya.

Sementara itu badan dibungkukkan di depan mengikuti kepala yang dijuntaikan hampir mendekati lantai. Setelah itu kaki kanan yang berada di depan digeserkan ke samping dengan menggunakan telapak kaki. Sementara lutut kiri menumpu badan mengikuti putaran kaki dan badan ke arah jarum jam.
Setelah melakukan merak ngombe, penari dapat langsung berpindah pada gerakan merak ngigel. Gerakan ini diawali dengan cara memutar kedua lengan tangan sehingga telapak tangan yang miwir sampur terbalik menghadap ke belakang.
Selingan adalah menyela adegan. Masyarakat penonton wayang topeng menyebut dengan istilah “ekstra” . Adegan ini merupakan bagian yang tidak memiliki kaitan konstruktif, tetapi menjadi bagian yang bersifat integral dengan keseluruhan sajian. Adegan selingan mirip dengan adegan Bambang – Cakil, yakni dalam wayang orang atau wayang kulit purwa. Isi adegan ini adalah munculnya tokoh Bapang yang membawakan tari Bapang, yaitu tokoh yang hadir dalam bentuk konstruktif tari tersendiri. Penampilannya selalu diiringi dengan Panakawan yang bernama Demang Mundu. Bapang tidak terkait dengan adegan jejer atau persoalan-persoalan yang dilakonkan. Pemunculan tokoh Bapang merupakan bentuk presentasi tarian, yaitu menggambarkan perjalanan Bapang menuju negara kakaknya, yaitu Klana Sewandana. Setelah munculnya tari Bapang, kemudian dilanjutkan dengan Permainan Gunungsari - Patrajaya. Adegan ini sangat menarik karena terdapat bentuk gerak tari yang disebut dengan “permainan”. Gunungsari dan Patrajaya bersama-sama memperagakan bentuk-bentuk yang khas, seperti: merak ngigel, merak ngombe, merak kesereten, wader pari nyungsung beji, merak kesimpir, biyodo mususi, wulanjar luru kemiri, satria jala, kemanten purek, tikus ngungak salang ngelur gadhung, dan lain sebagainya.

Menurut Karimoen, bentuk permainan dari Gunungsari berjumlah 24 macam, tetapi sekarang sudah jarang ditampilan karena terlalu lama, Penyajian pertunjukan yang terlalu lama mengakibatkan penonton merasa jenuh. Dampak negatif perubahan pola penyajian wayang topeng terhadap penari muda adalah menurunnya minat untuk mempelajari ragam gerak secara utuh, mereka mempelajari sesuai dengan kebutuhan penampilan. Kondisi ini mengakibatkan penari-penari muda jarang yang bersedia untuk berperan rangkap, mereka tampil sesuai dengan peran yang biasa dipresentasikan saja.
Permainan Gunungsari–Patrajaya merupakan gerak tari yang bagus di antara gerak tari topeng yang lain. Demikian juga teknik gerak tarinya yang sulit dan berat cara menarikannya. Sebagai contoh gerak merak ngombe ‘merak minum’ dan merak ngigel ‘merak menari’.
Menuju gerakan merak ngombe diawali dengan gerak biyada mususi. Gerakan merak ngombe dilakukan dengan cara jengkeng dengan kaki kanan di depan (posisi duduk jegang). Tangan direntangkan miwir sampur, kepala digerakkan seperti burung sedang minum di sebuah telaga, kekuatan untuk mengarahkan berada di leher lentur yang diimbangi oleh badan yang mengikuti gerak kepala turun naik. Posisi dada kuat menahan dan mendorong gerak leher dan kepala sesekali ditarik ke belakang. Gerakan ini bisa dilakukan sedikitnya delapan kali.


Gambar 9 Gunungsari

Setelah melakukan merak ngombe, penari dapat langsung berpindah pada gerakan merak ngigel. Gerakan ini diawali dengan cara memutar kedua lengan tangan sehingga telapak tangan yang miwir sampur terbalik menghadap ke belakang. Sementara itu badan dibungkukkan di depan mengikuti kepala yang dijuntaikan hampir mendekati lantai. Setelah itu kaki kanan yang berada di depan digeserkan ke samping dengan menggunakan telapak kaki. Sementara lutut kiri menumpu badan mengikuti putaran kaki dan badan ke arah jarum jam.


Gambar 10 gerak merak ngombe dari tari Gunungsari
Share on :
WAYANG TOPENG DI MALANG (BAGIAN IX)
WAYANG TOPENG DI MALANG (BAGIAN IX)
Reviewed by Robby Hidajat
Published :
Rating : 4.5

No comments:

Post a Comment