Pola Ritme

RITME SEBAGAI PEMBENTUK POLA GERAK

Robby Hidajat

Gerak tari sebenarnya tidak cukup hanya ditumbuhkan dari gagasan (idesional) yang dibayangkan bentuk visual atau mengimitasikan berbagai objek. Karena gerak tari tidak hanya dapat ditangkap hanya aspek visual sebagai pola-pola (desain atas). Tetapi gerak terkait dengan aspek pola waktu yang disebut “ritme”. Gerak tari menjadi sempurna sebagai ungkapan jika telah menyatukan bentuk visual dengan pola waktu (ritme).

Pola ritme yang 2/4 memberikan kesan dinamis, dan membuat gerak menjadi lebih aktif mengikuti ketukan, terlebih musik yang dipilih atau di rancang sangat kentara bitnya. Maka memiliki kecendrungan mengaktifkan kaki dan tangan. Penari menjadi lebih terbenam dalam ritme, sehingga aspek “pressentasi” yang memiliki tenaga sangat terasa itensitas dan tekstur yang di tempakan oleh tubuh. Di samping itu jika musik berpola ritme 4/4 menjadi badan dan torso menjadi lebih tenang. Memiliki kecendungan tubuh menghayati alur geraknya. Pola ritme ini sangat nikmat untuk menghayati ungkapan-ungkapan yang bersifat gerak murni, bahkan jika melodinya sangat menonjolkan ekspresi lirisnya.

Musik dapat membantu untuk menerjemahkan tematik murni dari tubuh, hal tersebut yang dikenal dengan rangsang musikal atau studi musikal, artinya gerak itu akan muncul mengikuti ritme dan bit-bit yang mampu membeirkan rangsangan tubuh untuk mengungapkan. Musik yang dianggap dinamis memiliki pola yang terasa memberikan semangat, salah satunya kesan “stacato” (rasa patah-patah). Pola gerak yang diungkapkan memiliki kecendrungan berpola mutasi, yaitu pergantian gerak tangan, kemudian berpindah ke kaki, kemudian ke kepala, dan diikuti torso yang mengikuti arah gerak tangan atau kaki. Sementara kepala atau pinggul selalu memberikan aksen dinamis. Perhatikan pola gerak tari Gandrung dari Banyuwangi atau tari Bali jenis Kekebyaran. Gerakan yang berpola mutasi dan atau pola gerak pengulangan terkekat, yaitu pengulangan gerak kaki yang disekat gerak kepala dan kemudinan kembali kekaki, atau pengulangan gerak tangan kemudian di sekat dengan gerak pinggul.

Musik yang bersifat ilustratif adalah membuat gerak berada di permukaan dan menghayati alur geraknya sendiri. Pada umumnya gerak yang diiringi dengan musik yang ilutratif adalah berkesan menahan waktu, dan mengembarakan tubuh menikmati tubuh itu sendiri, oleh karena itu gerak yang ditampakan lebih memberikan penekanan pada ungkapan karakteristik yang bersifat dramatis.

Musik ritmik dengan bit-bit yang menonjol menjadi bagian yang sangat umum di Indonesia, sehingga pola gerak dalam tari daerah lebih banyak didominasi oleh pengulangan yang bentuknya bermacam-macam. Pola-pola pengulangan yang ditimbulkan oleh musik adalah sebuah sifat yang disebut “interaktif”, pola tanya jawab dan saling memberikan respon antara gerak dan musiknya.

Proses kreatif yang ditumbuhkan oleh musik ritmik menjadi menarik kalau benar-benar di diperhitungkan, bahkan di cermati bit-bit yang memberikan rangsangan pada tubuh dan menimbulkan tanggapan. Pola ritmik dari bit-bit jenis kendang menjadi sangat hidup kalau ditanggapi dengan gerak kaki, tangan akan menjadi sangat hidup kalau ada perkusi jenis logam. Sungguhpun di berbagai daerah di Indonesia, gerak tangan sangat didominasi oleh tepak kendang. Hal-hal yang biasa tersebut perlu dicermati dan dipikirkan lebih sungguh-sungguh. Petikan jenis instrumen berdawai kawat memberikan rangsangan pada torso bergerak mengikuti arah naik dan turun, sementara musik yang bersifat melodis membawa tangan terangkat ke atas dan memberikan kesan ringan.

Share on :
Pola Ritme
Pola Ritme
Reviewed by Robby Hidajat
Published :
Rating : 4.5

No comments:

Post a Comment