JARAN PEGON iNDONESIA

JARAN PEGON
JARAN PEGON

Robby Hidajat
Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Seni Tari,
Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

Festival yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Pariwisata Kota Malang dan sebagai pelaksana adalah Tunggak Semi Management – Guru Jaman (Guyub Rukun Jaranan Malang). Penyelenggaraan ini merupakan salah satu ivent untuk memeriahkan HUT Kota Malang yang ke 96, tanggal 20 Maret 2011 di halaman depan Mall Olimpic Garden (MOG) diselenggarakan Festival Jaranan se Kota Malang yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Pariwisata Kota Malang yang diikuti oleh 11 kelompok. Para peserta tersebut di undang untuk tampil menyajikan kemampuan dan kreativitasnya.
Jaran Pegon berasal dari kata ‘pego’ atau tidak jelas, karena jenis Jaranan ini memang mengadopsi penampilan gerak dan kostum bersumber dari Wayang Orang, khususnya gaya Surakarta. Sungguhpun perkembangannya sudah tidak lagi seperti perkumpulan yang muncul pada awalnya 1960-an. Penampilan penari jaranannya selalu menggunakan kostum Bambangan (jenis satria) yang selalu tampil berdua.
Musik Jaran Pegong tergolong lengkap, tidak seperti jenis Jaranan yang lain. Hal ini karena pengaruh yang kuat dari Wayang Wong. Munculnya Jaran Pegong ini, sebenarnya dikerenakan mulai surutnya minat masyarakat tarhadap Wayang Wong Panggung. Sehingga banyak anggota perkumpulan Wayang Orang yang turun ke masyarakat di kampung-kampung untuk mengamen.
Salah satu penampilan Jaran Pegong dapat diperhatikan sebagai berikut:
-->

Judul Penyajian                        : Pemburu Celang
Nama organisasi                       : Kudo Pradonggo
Penata Tari                              : Gimun
Penata Musik                           : Nanang
Penata Rias & Busana       : Suyono
Sinopsis

Tarian ini menggambarkan 4 satria berkuda yang mendapat tugas untuk memberantas hama babi hutan (celang). Ketika dalam pertempuran antara 4 satria dan babi hutan, tiba-tiba muncul Singo Barong yang bermaksud membantu. Atas batuan dari Singa Barong tersebut, 4 satria dapat menangkap babi hutan yang liar dan ganas tersebut.

Judul Penyajian                        : Satria Putra Kencana
Nama organisasi                       : Turonggo Kencono Unmgu
Penata Tari                              : Ardi
Penata Musik                           : Ardi
Penata Rias & Busana       : Sugeng Uripan
Sinopsis
Tarian ini menggambarkan 4 prajurit kerajaan yang sedang menunggang kuda dengan gagah berani. Kepergiaan para  prajurit tersebut adalah untuk membasmi pemberontak yang berupa seekor Naga Rasaksa.
Sebelum 4 prajurit berkuda tersebut dapat menemui sang Naga (Singo Barong) di tengah jalan mereka di hadang oleh anah buah Singo Barong yang berupa Celeng. Dengan gagah berani, 4 prajurit tersebut dapat mengalahkan sang celeng, bahkan kemudian juga dapat menaklukan sang Naga, bahkan kemudian prajurid sang Naga juga dapat disajukan untuk membangun negara yang gemah ripah loh jinawi.
            Menyimak dari dua penampilan Jaranan Pegong yang tampil, tampaknya tidak lagi tampak tematik yang menyentuh akar tradisinya. Hal tersebut dapat di simak pada masuknya tokoh-tokoh satwa berupa Babi dan Singa. Perlu diperhatikan, bahwa jenis Jaran Pegong sebenaranya berupa jenis Jaranan yang menari, yaitu lebih menonjolkan pola gerak seperti bentuk ‘kiprahan’. Jika ingin dikreasikan atau digarap, maka cerita yang ditampilkan dapat berupa bentuk pengembaraan satria yang sedang melamar putri di sebuah kerajaan, atau bentuk cerita kesejarahan. Tetapi tidak melibatkan tokoh-tokoh yang berasal dari tradisi ‘totemistik’.

Share on :
JARAN PEGON iNDONESIA
JARAN PEGON iNDONESIA
Reviewed by Robby Hidajat
Published :
Rating : 4.5

No comments:

Post a Comment