SENI TARI SEKOLAH DAN PERTUMBUHAN BUDAYA LOKAL


SENI TARI SEKOLAH DAN PERTUMBUHAN BUDAYA LOKAL

Dra. Suci Narwati, S.Pd.
Guru Seni Tari di Sekolah Dasar

            Pembelajan kesenian di sekolah dari waktu-ke waktu semakin memberikan kontribusi yang jelas, secara konseptual telah banyak pakar pendidikan seni  yang berusaha meyakinkan, bahwa kesenian di sekolah adalah sebagai media apresiasi, yaitu untuk mengenalkan aspek kompleksitas dari budaya bangsa Indonesia, selain dari pada itu juga sebagai pendidikan watak dan membangun karakteristik generasi muda. Hal ini sangat saya yakini, yaitu berdasarkan selama ini saya sebagai guru seni tari di salah satu sekolah dasar di kota Malang. Hampir setiap tahun sekolah tersebut menyelenggarakan pentas seni yang melibatkan semua siswa. Apresiatornya adalah orang tua dan keluarga.

Kegiatan produksi seni yang dilaksanakan setiap tahun kami laksanakan itu, dapat dipasikan juga dilakukan oleh sekolah-sekolah yang lain. Hal ini tentu  sudah menjadi sesuatu yang bersifat umum, yaitu pembelajatan seni  ditujukan untuk menerampilkan siswa. Harapannya agar anak-anak itu mempunyai kemampuan untuk menjadi ‘seniman’. Oleh karena itu, pelajaran seni di sekolah menjadi pembelajaran seni disekolah bersifat vokasional. Bahkan sekolah-sekolah yang mendapatkan vasilitas dan motiviasi kreatif yang tinggi dari pihak kepala sekolah, kepala Dinas pendikian, bahkan secara langsung mendapat peluang yang seluas-luasnya dari kepala daerah. Maka sekolah menjadi pusat produksi seni.
            Di Jawa Timur Kondisi yang demikian, bukan suatu hal yang bersifat opini atau gagasan inovatif, tetapi hal tersebut sudah menggejala dan membutuhkan penguatan politis. Mengingat fenomena pembelajaran seni yang mengarah pada aspek vokasional mempunyai peluang besar pada aspek penyebara luasan produk seni, bahkan mengalihkan secara institusional dari lembaga adat ke lembaga pendidikan (sekolah). Proses transpormasi institusional ini telah berjalan sekitar 3 dasawarsa, dan sangat didukung oleh masyarakat secara lebih luas.
            Seperti yang diselenggarkan pihak sekolah di mana saya mengajar, kegiatan seni merupakan dinamika yang sangat potensial. Sebagai sekolah suasta tentunya sangat membeirkan peluang yang besar untuk melibatkan pihak wali murid dan orang tua. Karena mereka rata-rata para pembisnis, sehingga ide-ide inovasi sangat membeirkan dukungan yang baik bagi perkembangan kesenian di sekolah.

Seni Tari  Dalam Lembaga Adat
            Jika saya perhatikan hingga saat ini, kesenian tradisi semakin melemah, hal itu disebabkan oleh melemahnya lembaga adat dalam mengemban kesenian tradisional sudah terasa sejak pertengahan abad XX yang lalu. Setidaknya dapat dirasakan benar pada tahun 1980-an, ketika pola Repelita yang mendorong masyarakat tradisional mengenal teknologi; beralihnya sistem pertanian tradisional ke pertanian modern. Hal tersebut dirasakan benar, bahwa Indonesia pernah mengalami surplus pangan (beras). Sejak saat itu, kesenian tradisional mulai mengalami kemunduran, hal tersebut dapat ditengarai adanya perubahan pola kerja dan pola tanam. Sistem pola tanam tradisional memiliki siklus 6 bulan, sementara 6 bulan berikutnya masa pemulihan lahan dan pengolahan hasil pertanian, semuanya dilakukan dengan cara tradisional. Bahkan transportasi juga menggunakan cikar atau dokar. Tetapi setelah tahun 1980-an, pola pertanian mempunyai siklus yang lebih pendek antara 3-4 bulan, dan kemudian berulang. Sehingga produksi pertanian (padi) relatif dapat dilakukan 3 kali dalam setahun. Salah satunya kondisi tersebut yang menyebabkan kesenian tradisional menjadi tidak potensial dan menurun produktivitasnya. Bahkan secara perlahan media informasi, yang semula Radio (audio) ke televisi (audiovisual) mengakibatkan perhatian masyarakat desa dalam mengapresiasi produk keseniannya sendiri relatif semakin berkurang.
            Seiring dengan hal tersebut, rupanya pemerintah daerah hingga pusat terus memperhatikan melemahnya kesenian etnik diberbagai  daerah, termasuk di Jawa Timur. Berbagai program diluncurkan untuk memberikan motivasi dan wadah yang memungkinkan kesenian etnik dapat mempunyai kemungkinan bertahan. Sungguhpun  semakin hari juga mengalami banyak kendala. Berbagai ivent yang ditujukan untuk membangkitkan gairah pariwisata di galakan, dan terus dikembangkan sehingga menyentuh areal sekolah, yaitu secara langsung para pelajar di libatkan untuk mengalami usaha reproduksi kesenian etnik. Jawa Timur, dalam persoalan ini mempunyai pengalaman yang sangat banyak. Sehingga potensi seniman darah hingga saat ini masih relatif dapat mempertahankan kekayaan etnik.

Seni Tari di Sekolah
            Kesenian, dalam hal ini khususnya seni tari  di lembaga pendidikan dalam berbagai kurikulum tetap mempunyai ruang yang relatif permanen, tidak banyak memberikan bantuan terhadap upaya transformasi. Akan tetapi masih dipandang memiliki potensi dalam menyebar luaskan informasi keberadaan seni tari di berbagai daerah. Dalam hal ini mulai tahun 1970-an, berbagai sanggar di Jawa Timur telah berusaha keras membeirkan dukungan terhadap materi seni tari yang diajarkan di berbagai sekolah.
            Guru-guru seni tari pada umumnya menggali ketrampilan seni dari sekolah (perguruan tinggi), dan tidak banyak yang mendalami kesenian tradisional di daerahnya. Tetapi, loyalitas mereka pada atasan sangat luar biasa, sehingga kinerja dalam ikut serta mengembangkan dan menyebarluaskan informasi keberadaan seni etnik di darah mereka cukup berhasil. Bahkan ketika mereka memang benar-benar di percaya dan diberikan motivasi yang sangat kuat oleh pejabat se tempat, kinerja mereka melebihi seniman pemangku tradisi. Tidak karena loyal pada adat setempat, tetapi mereka patuh karena merasa takut (bahasa administatisnya adalah berdedikasi). Di sisi yang lain ada guru-guru yang memang memiliki jiwa kesenimanan, mereka seringkali bergairah untuk berkarya, dan menjadikan siswanya seolah-oleh anggota penyangga budaya. Guru yang demikian ini memiliki idealisme yang tinggi, bahkan kadang-kadang tidak mempertimbangkan efek administrasi sebagai PNS. Hal ini bernar-benar saya alami sebagai guru seni tari, yang hingga saat ini masih bersetatus sebagai guru seni honorer. Ini mungkin karena pilihan, sehingga menjadi guru seni tari di sekolah adalah sebuah ekspresi budaya yang seperti mereka yang berada dalam lingkungan adat.
            Laju pertumbuhan seni tari di daerah pada dasarnya ada ditangan guru-guru tersebut, sementara guru yang bersifat administratif dan taat asas kurikulum malah tidak mampu berbuat banyak. Kesenian adalah sebuah juklak yang secara metodis disampaikan sesuai dengan alokasi waktu dan kemampuan sekolah. Profil guru seni yang demikian ini saya sebut sebagai guru adiministrasi.
            Pertumbuhan seni tari di lembaga pendidikan, mulai dari jenjang SD/Mi hingga SMA/MA dari waktu ke waktu mengalami rekonstruksi dan produksi. Seolah seolah-oleh telah menjadi lembaga produksi seni tari untuk menunjukan kejatidirian suatu institusi pemerintah, dan secara meluas mencakup eksistensi etnisitsa dan budaya lokal. Hal ini benar-benar menggembirakan, jika sekolah memang sangat potensial dalam mengalihkan lembaa adat dalam mengembangkan seni tari tradisi milik budaya bangsa Indonesia.


Biodata
Nama                         : Dra. Suci Narwati
Tempat/tgl. Lahir    : Pasuruan/19 April 1963
Alama                        : Jl. Janti Selatan no 6  Malang Tlp. 0341-341679
Pendidikan              : S1 Seni Tari ASTI Yogyakarta
                                     Akta Mengajar jurusan Seni Rupa IKIP Malang
Profesi                      : seniman-guru Seni Tari


Share on :
SENI TARI SEKOLAH DAN PERTUMBUHAN BUDAYA LOKAL
SENI TARI SEKOLAH DAN PERTUMBUHAN BUDAYA LOKAL
Reviewed by Robby Hidajat
Published :
Rating : 4.5

No comments:

Post a Comment