POLA GARAP SENI TARI KOMPETISI DAN KEJELIAN PARA KREATOR PADA FLS2N TAHUN 2013


Robby Hidajat
(ketua Tim pengamat)

Lomba pada dasarnya adalah suatu kegiatan yang bersifat kompetisi, oleh karena itu setiap kompetitor harus mencermati aspek-aspek yang menjadi ketentuan atau rambu-rambu. Artinya kejelian memahami juklak atau juknis menjadi bagian yang sangat penting. Karena aspek non artistik ini kadang dapat merugikan peserta. Kompetisi seni tari (koreografi) untuk tingkat SMP se Jawa Timur yang diselenggarakan pada tanggal 11 Mei 2013 di Hotel UTAMI – jl. Juanda. Surbaya diikuti 29 peserta perwakilan kabupaten/kota se Jawa Timur.  Peserta tahun ini cukup menggembirakan, termasuk pada penyajian karya. Usaha keras para pelatih/guru tari/seniman yang bersudah payah menggarap seringkali tidak memperhatikan aspek non teknis, yaitu ketentuan yang disyaratkan oleh panitia. Juknis, terutama pada aspek persyaratan dan tata tertip dimaksudkan untuk menyama persesepsikan para penyaji. Agar mereka dapat mengajukan aspek-aspek amatan yang mempunyai kesamaan visi, teknik, dan atau indikator-indikator yang diperhatikan betul oleh pengamat.
                Pada tangkai lomba seni tari (koreografi) pada tahun ini fokus pengamatannya ada 4 point, yaitu (a) Kesesuaian tema; tema yang dipersyaratkan adalah ‘Heroisme’ (kepahlawanan), (b) Kreativias; kreativias ini luas sekali cakupannya. Akan tetapi yang paling simplek adalah secara kreatif mengolah peraga, atau penari. Berikutnya mengolah unsur-unsur kroreografi, termasuk desain kelompok. Sebab 5 orang penari memputuhkan kejelian dalam mengatur formasi. Tidak hanya membagi dalam dua kelompok antara 2 penari dan 3 penari secara berganti-ganti, (c) Ekspresi, yaitu menunjuk pada kemampuan peraga secara profesional, artinya penari yang dikompetisikan tidak dalam level pemula, akan tetapi setidaknya mereka sudah memiliki dasar teknik dan mempunyai jam terbang pentas cukup. Artinya mereka sudah tidak lagi mengalami kendala tekniks di atas panggung, dan (d) Harmonisasi, yaitu aspek penyajian. Secara keseluruhan mulai dari pemilihan tema, yaitu cara membidik sudut pandang tematik hingga menetapkan untuk memilih sumber garap, baik gerak atau musik, serta penyiasatan atau strategi dalam mengeolah formasi dan juga aspek dinamika hingga menentukan aspek dramatika diharapkan sudah tidak merasa ragu, mantap, dan benar-benar menepatkan keputusan dengan jeli.
                Para penyaji, rata-rata mengalami  kendala pada saat mengeskusi arah, alur, dan motivasi gerak penari yang seringkali tidak jelas. Banyak penggarap yang asal mengeluarkan penari dari sudut tertentu tanpa mempertimbangkan arah dan tujuan. Akan tetapi mereka lebih dimotivasi agar ada alasan penari sampai di atas pentas. Terlebih mereka yang mulai gerak di atas panggung (on stage). Ketika musik dibunyikan terdengar suara alunan gending, penari bergerak. Orang kadang tidak menyadari, kenapa penari itu bergerak. Apakah karena gending yang berbunyi, atau penari gerak menyebabkan denging berbunyi. Semuannya tampak menjadi sebuah kelaziman yang menjadi tidak memiliki dasar yang kuat untuk tindakan itu.
                Beberapa karya dibiarkan penari menyiapkan diri berjajar di kanan dan kiri panggung. Mereka bersiap dengan sikap menari tertentu. Menghadap ke belakang, orang tentu mengira bahwa penari itu akan bergerak ketika musik dibunyikan. Ternyata musik telah berbunyi beberapa detik, penari masih diam saja. Artinya penari menunggu tanda dari musik, sehingga  musik hanya untuk sarana bagi penari agar dapat menggerakan tubuh. Tidak memilih kemungkinan yang lain, penari bergerak sementara musik belum dibunyikan. Ketika pada posisi yang benar benar potensial dan memiliki moment yang sangat berarti baru musik benar-benar berbunyi. Musik memasuki areal tubuh penari. Bukan penari memasuki suara musik dan secara berkelanjutan para penari memang benar-benar menggantungkan musik untuk bergerak. Bukan musik merasuki tubuh penari yang bergerak sehingga muncul tanggapan yang paling sensitif dari penghayatan perasaan penari yang terdalam. Pemahaman  ini menjadi lazim, karena penari tidak merasakan ada tema yang sangat dasyat merasuki tubuh mereka. Perang yang penuh konflik, kekuasaan yang menindas, dan pembelaan atas ketidak berdayaan. Mereka tampil hanya mengulang hafalan latihan. Seperti penampilan para pejuang ‘peta’ di Blitar. Tidak ada perasaan yang terdalam pada penghayatan penari untuk menjadi perkasa, hebat, atau nekat. Bahwa mereka menjadi ‘tentara pembela tanah air’ pada masa zaman Jepang. Empati pada peristiwa itu sama sekali tidak tumbuh. Sehingga mereka benar-benar menari menghibur penonton. Arti menari di sini lebih ditampkan mereka menikmati rangsangan musikal, sehingga tubuh mereka digetarakan musik dan merespon dengan perasaan yang nikmat, dalam pengertian yang sederhana itu adalah ‘tari-tarian’ bukan berekspresi.
  Penari tampak menikmati posisi dan gerak yang sudah di rangkai oleh koreografer (Foto Robby).

                Jika kita perhatikan, posisi yang tertangkap kemera memiliki moment yang sangat potensial secara ‘gembar’, akan tetapi mereka tidak merasakan bagaimana gerak yang dilakukan itu merasuki tubuh dan membuat mereka benar-benar merasa berat mengarahkan senjata ke arah musuh. Peristiwa ini tidak hanya sebuah ‘desain’ akan tetapi sebuah penghayataan estetik yang menyebarkan mereka mampu  berempati terhadap peristiwa heroisme perlawanan ‘peta’ di Blitar.

Kejelian Kreater
                Sementara ini, saya mengamati kejelian pada kreator pada forum kompetisi koreografi hanya ditekankan pada aspek teknik penari. Penari-penari yang handal, yaitu hasil pelatihan dengan tangan besi, pelatih yang keras dan disiplin tinggi. Sehingga melahirkan penari yang memiliki ketangguhan di atas pentas. Untuk menfapai tarap itu sungguh sangat sulit, butuh perjuangan dan pengorbanan tenaga dan waktu. Latihan yang tidak henti-hentinya, sehingga penari mampu benar-benar sebagai media. Pada umumnya yang mampu dicapai oleh penari kompetitif adalah ‘power’ (tenaga). Tenaga yang menghasilkan kekuatan super, membuat penari seolah-oleh tampil dengan sepenuh jiwa. Ketegasan gerak yang seolah-oleh tubuh ini tidak mempunyai kelenturan, semuanya tulang yang sangat kuat.  Acungan tangan, hentakan kaki, dan tolehan kepala kekanan atau kekiri. Mata yang diplototkan tajam menusuk setiap sudut ruang. Seolah-oleh tidak pernah ada perubahan perasaan. Robot penari ini benar-benar memukau, dan banyak orang yang merasa kagung dibuatnya.  Penyajian super power ini memperlihatkan sebuah cara untuk menyiasati agar penampilan di atas pentas tidak kendor, loyo, atau lebay. Kekuatan menjadi alternatif yang utama untuk mendaptkan simpatik pengamat, atau penonton agar mereka mampu didukung secara emosional dengan spontan merespon dengan tepuk tangan.
                Strategi koreografe jenis super power ini memang tidak semua, akan tetapi pada umumnya menjadi pilihan para koreografer. Mereka masih merasa setrategi itu masih ampuh, terutama menunjukan bahwa penari mereka mempunyai disiplin, stamina, dan responsif terhadap musik yang sangat jeli.  Tetapi yang tampil itu adalah ‘desain’, bukan ekspresi, bukan penghayatan, bukan pengembaraan rohani agar penari memang benar-benar mampu dirasuki oleh gagasan, oleh ide-ide atau imajinasi seniman.

 Gerakan yang tegas, pandangan yang tegas, dan kaki yang kokoh “super power’ (Foto Robby)

Kegagalan strategi ‘ending’
                Banyak penyaji yang terhempas karyanya pada mencapaian rasa puncak (ending), termasuk desain yang disiapkan untuk mengakhiri sebuah karya. Sebuah karya tari memang bukan hanya jajaran gerak yang indah, akan tetapi dari bagian per bagian dibutuhkan pencarian rasa ‘seleh’ dan ‘gairah’, alunan gerak memasuki relung-relung desain dramatik yang membuat karya menjadi enak untuk dinikmati. Penari bergerak atas sebuah dorongan emosional yang benar-benar murni, tidak tampak desain yang memaksa mereka bergerak atau mengakhiri gerakan. Jika pencarian dan penyiasatan itu mampu ditemukan, maka karya itu benar-benar memberikan kesan. Rasa akhir dari karya adalah sebuah salam perpisahan yang simpatik. Penonton menjadi sangat saya dan terasa lega pernah melihat penampilan yang benar-benar memberikan arti, berkesan. Akan tetapi banyak yang mengalami kegagalan pada ujung penampilan.

 

















Desain ending yang tidak berkesan (Foto Robby )

                Jika diperhatikan, ending karya itu ingin mendapatkan kesan monumental dari perjurit yang membidikan panahnya yang terakhir pada lawan. Oleh karena itu, semua kekuatan dan ketrampilan dipetaruhkan untuk mampu menjatuhkan lawan yang jaraknya cukup jauh dari mereka berada. Oleh karena itu mereka harus membuat tumpuan, menciptakan kondisi ruang yang menyatu dan kekokohan dari usaha bersama. Penyatuan diri untuk menunjukan gempuran terakhir. Akan tetapi ketika posisi dan kinetik mereka yang tidak mantap. Menjadi apa yang diharapkan tidak tercapai.










Share on :
POLA GARAP SENI TARI KOMPETISI DAN KEJELIAN PARA KREATOR PADA FLS2N TAHUN 2013
POLA GARAP SENI TARI KOMPETISI  DAN KEJELIAN PARA KREATOR PADA FLS2N TAHUN 2013
Reviewed by Harda Huru Hara
Published :
Rating : 4.5

1 comment:

Anonymous said...

"Strategi koreografe jenis super power". ini terminologi baru ya pak, heheh ???

Post a Comment